Kamis, 28 Februari 2019

Amelia Oktavia, berbagi kisah menjadi relawan Entikong

Tanoto Foundation bersama yayasan beasiswa10.000 kembali menginovasi melalui peningkatan mutu pendidikan, dan kali ini mengadakan sebuah kegiatan pengabdian disebuah desa terpencil, yakni Dusun Punti Engkaras, Desa Nekan, di perbatasan Indonesia-Malaysia, Entikong, Kalimantan Barat. Kegiatan ini berupa penyaluran tenaga pengajar untuk mengajar disekolah yang terdapat di desa tersebut selama beberapa hari. Adapun salah satu relawan mengajar di Desa tersebut yang diplih oleh Tanoto Foundation adalah Amelia Oktavia, salah satu scholars dari TSA Jambi.



Repost by @amaliaoktavia6 . Dusun Punti Engkaras, Desa Nekan, di perbatasan Indonesia-Malaysia, Entikong, Kalimantan Barat penuh dengan sejuta cerita dan makna. Rasa nasionalisme yang tinggilah yg membuat mereka tetap memilih dan menetap di garda terdepan, terluar dan terpencil yg penuh kehangatan. Hanya ada satu SD untuk kelas 1-3 saja, bagi mereka yang ingin melanjutkan kelas 4-6 harus sekitar 1 jam berjalan kaki melewati medan jalan yg berbahaya. Sedikit tamparan bagi saya melihat anak-anak yg sudah siap berangkat sekolah dengan menggunakan seragam merah putih di kegelapan subuh melawan dinginnya embun pagi. Disana juga kesulitan sinyal dan penerangan. Kami mengajak warga menonton bersama di malam hari agar semua warga dpt menonton film. Saya menerapkan pembelajaran langsung dengan mengajari mereka mengaitkan kehidupan sehari2 kontekstual (nyata) menggunakan bebatuan, roti dan bunga2 yg ada di sekitar sekolah dan menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Kami sempat mengunjungi pos lintas perbatasan Indonesia-Malaysia langsung untuk melihat keadaan disana dan mencari informasi, anak2 semangat saat mereka mengikuti senam dengan ceria, gembira tampak dari wajah mereka, sepertinya memang jarang sekali diadakan senam. Di sekolah ini tidak pernah mengadakan upacara bendera, kami pun melatih mereka berulang kali. Upacara pun dilaksanakan pertama kalinya di sekolah dasar ini dengan penuh hikmat dan khusuk sungguh ini menjadi upacara terharu. Setiap siang dan sorenya kami mempunyai kegiatan lainnya seperti pengecekan Gizi, PHBS, membuat kerajinan dari kain percah, sosialaisasi ke rumah-rumah warga, bermain ke bendungan, ladang serta memberi santunan berupa sembako sekaligus mengenal lebih dalam masyarakat sekitar. Di malam puncak perpisahan ada pertunjukan dari anak2, warga, dan volunteer. Kami para volunteer memohon pamit dengan penuh isak tangis, rasanya tak rela meninggalkan warga di sini begitupun sebaliknya. Esok paginya saat hendak pulang anak2 mengejar mobil yg membawa para volunteer dengan kesedihan. Terimkasih pengalaman berharga Volunteer 🙏 😍💛 I am so proud . . . #tanotoeducation #beasiswa10000 #DukungPendidikanUsungPerubahan #menjaditeladan
A post shared by TSA JAMBI (@tsa_jambi) on

Menurut amel, Banyak sekali pengalaman dan cerita berharga yang dia dapatkan disana. Ada banyak hal yang mereka lakuka disana, Salah satunya yang memang benar - benar sangat berkesan adalah saat pelaksanaan upacara di sekolah itu. Karena memang benar - benar selama ini sekolah tersebut tidak pernah mengadakan kegiatan upacara, jadi kedatangan tim relawan sekaligus menjadi upacara bendera pertama kali yang dilakukan di sekolah tersebut. Meskipun mulanya sangat kesulitan melatih anak- anak, akan tetapi dengan antusias mereka yang tinggi akhirnya upacara dapat berjalan lancar dan penuh khidmat.
#TSA Jambi
#TanotoFoundation

Tidak ada komentar:

Posting Komentar